iblis berwajah manusia

Ternyata aku adalah iblis berwajah manusia

Masih teringat jelaskah rangakaian-rangkaian peristiwa yang telah membuat ibu pertiwi menangis ? iya benar, tragedi bencana alam yang memporak-porandakan tanah air Indonesia tercinta yaitu dengan beruntutnya bencana alam yang membuat ratusan ribu bahkan jutaan pasang mata memaksa untuk meneteskan air matanya untuk menangisi korban keganasan alam tersebut.

Sadar atau tidak sadar bencana alam itu sebenarnya sebuah peringatan keras bahwa pelaku-pelaku kejahatan akan tumbang tiada tersisa (penjahat, perampok, koruptor, teroris, pezina, penfitnah, penghasud, dsb).

Maka saat itu apa yang pertama kali yang ada dibenak kita tentang tumbangnya pelaku-pelaku kejahatan ?

Senang ?

Bahagia ? atau

Bersuka cita ! karena virus-virus perusak keindahan dunia telah mati !

Tolong di jawaban dengan sejujur-jujurnya ?

kalau anda menjawab iya maaf anda adalah level orang biasa bukan orang luar biasa

Akan tetapi jikau anda ingin menjadi orang yang luar biasa mendapatkan hikmah dibalik kejadian itu maka tanggalkan perasaan itu semua, karena orang yang luar biasa bukan melihat apa yang telah diperbuat tapi jauh dengan paradigma (sudut pandang) yang sebenarnya itu sebuah skenario dari Tuhan sebagai alat penguji manusia. karena pelaku-pelaku kejahatan merupakan suatu keuntungan yang sangat besar bagi orang berjiwa besar bukan orang yang kerdil jiwa dan hatinya, sebab pelaku-pelaku kejahatan itulah yang merupakan suatu penyeimbang dan indikasi munculnya hikmah-hikmah yang agung yang menjadikan suplemen jiwa kita untuk menjadi dewasa.

Kalau kita tahu betapa sangat terkejutnya apabila mengetahui rahasia dibalik hikmah tumbangnya pelaku-pelaku kejahatan. Ahli hikmah menangis dan bersedih dimana pelaku-pelaku kejahatan akan tumbang. Sebab suatu musibah yang sangat besar apabila pelaku-pelaku jahat itu tumbang, tidak akan ada lagi hikmah-hikmah yang terurai yang menjadikan dunia menjadi indah. karena pelaku-pelaku kejahatan ini merupakan suatu penyeimbang dunia agar tidak kiamat.

Tapi siapa yang tahan dengan fitnaan, cacian, yang dilemparkan terang-terangan di muka kita ?

Hanya orang yang berjiwa besarlah yang dapat menahan serangan itu semua walaupun terasa sangat sakit, pahit dan tidak enak dirasa, tapi paradigmanya merubah sesuatu yang sakit menjadi tidak terasa. Dengan zirah sabar dan ridholah yang menjadikan sebuah obat yang akan menyembuhkan penyakit-penyakit keangkuhan yang ada didalam jiwanya. Sehingga dengan dia dicaci, difitnah dan dihina, semakin jelas dan nampak bahwa dirinya adalah manusia yang lemah, hina, dan berlumuran dosa.

Sehingga hati apabila difitnah, dihina, dan dibenci orang dan kamu membalasnya dengan perbuatan yang sama kamu belum wahidiyah. Maka apabila bertemu dengan pengontras ketika sedikit kamu timbul perasaan benci, inilah taraf penyempurnaan wahidiyah di era yang akan datang .

Dengan perasaan nol tidak merasa ada apa-apa itulah yang menjadikan benteng hati yang sangat dasyat, karena hakekat semuanya adalah permainan dan sendau gurai belaka. Karena kuasa Alloh lah yang menjadikan itu semua seolah-olah tampak seperti nyata (susah, senang, sedih, dsb).

Maka tidak akan mungkin mutiara hikmah akan muncul sebelum sebelum ujian fitnah datang.

Tidak ada orang yang akan di muliakan yang tidak akan di uji, dicaci, dan di fitnah. maka lebih mulia dengan kita diam dan merenungi kekurangan diri sendiri, daripada membalas cacian dan fitnaan orang lain, karena sabar itu adalah tangga yang terselubung menuju kemuliaan (renungan untuk menjadi jiwa yang sempurna).

Sebagai contoh :

Seorang Abuizal Bakrie tidak akan risau apalagi marah jikalau ada seseorang datang dihadapannya terang-terangan mengatakan bahwa abu rizal bakrie itu seseorang yang miskin, kampungan, dan tidak punya uang, yang ada tertawa dan kasihan dengan apa yang dilakukan orang itu kepadanya. Siapa yang tidak tahu Aburizal Bakrie, salah seorang pengusaha terkaya dari indonesia.

Begitupula seseorang yang dekat kepada Alloh, dia tidak marah sedikitpun apabila cacian, fitnaan, serta hujatan menghujam dirinya. Kesabaran dan ridholah yang menjadi baju keagungannya. Karena dia sangat dekat dengan Sang Maha Benar. Tidak ada urusan baginya untuk marah apalagi membenci orang yang telah menyakiti dia, karena sadar tiada tempat untuk marah ketika dihina, sebab Alloh masih banyak menutupi aib kebusukan hatinya kepada sesama manusia.

Mari sekali lagi kita koreksi diri kita ? Pantaskah kita menjadi kekasih tuhan ?

keangkuhan atau sabarkah yang menjadi baju dalam menghadapi ujian yang diberikan Alloh kepada kita ?

Kalau sabar berarti kita adalah kekasih Alloh. Karena Alloh bersama orang yang sabar.

Akan tetapi sebaliknya ketika kita menghadapi tangga ujian kemulian akan tetapi baju keangkuhan dan kemarahanlah yang kita kenakan maka sebenarnya kita adalah iblis yang berwajah manusia! merasa paling benar sendiri dan tidak menduduki posisi seorang hamba yang lemah, hina, dan berlumuran dosa. Maka belum dikatakan sebagai "Pejuang Wahidiyah" jikalau kamu masih mempunyai rasa dendam dan marah terhadap orang yang membencimu !

Emas tetaplah emas, tidak akan berubah sampai kapanpun walau ditaruh didalam kotoran dan selokan. Begitupula kekasih Tuhan, apapun yang terjadi dia tidak akan pernah berubah sedikitpun karena aura akhlaqul karimah kelembutan dan kesabaran senantiasa terpancar didalam jiwanya.

Selasa, 31 Juli 2012

malam pertama

Satu hal sebagai bahan renungan kita…
Tuk merenungkan indahnya malam
pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan
duniawiah semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa Justeru malam pertama
perkawinan kita
dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak
tangis sanak
saudara Hari itu…mempelai sangat dimanjakan
Mandipun… harus dimandikan.. Seluruh
badan kita terbuka…
Tak ada sehelai benangpun
menutupinya. .
Tak ada sedikitpun rasa malu… Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus
dikeluarkan Bahkan lubang ? lubang itupun
ditutupi
kapas putih…
Itulah sosok kita.. Itulah jasad kita waktu itu Setelah
dimandikan.. .
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik
berwarna putih Kain itu… jarang orang
memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan Wewangian ditaburkan ke baju kita..
Bagian kepala, badan dan kaki diikatkan
Tataplah.. tataplah .. Itulah wajah kita
Keranda pelaminan … langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian…
Mempelai di arak keliling kampung bertandukan keranda
Menuju istana keabadian sebagai simbol
asal usul kita Diiringi langkah gontai seluruh
keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus
Akad nikahnya bacaan talkin…
Berwalikan liang lahat… Saksi-saksinya
nisan-nisan. .. yang telah
tiba duluan
Siraman air mawar…pengantar akhir kerinduan dan akhirnya….
Tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian..
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh
langkah kehidupan Malam pertama
bersama KEKASIH.. Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah…
Dan ketika 7 langkah tlah pergi…
Kitapun kan ditanyai oleh sang malaikat…
Kitapun tak tahu apakah akan memperoleh
Nikmat Kubur…
Ataukah kita kan memperoleh Siksa
Kubur…
Kita tak tahu…dan tak seorangpun yang
tahu… Tapi anehnya kita tak pernah galau
ketakutan… Padahal nikmat atau siksakah yang kan
kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air
mata… Seolah barang berharga yang
sangat
mahal… Dan Dia Kekasih itu… Menetapkanmu ke syurga…
Atau melemparkan dirimu ke neraka…
Tentunya kita berharap menjadi ahli
syurga
Tapi…, tapi… sudah pantaskah sikap kita
selama ini.
Untuk disebut sebagai ahli syurga ??????
Wahai Sahabat.. mohon maaf.. jika malam
itu aku tak
menemanimu
Bukan aku tak setia… Bukan aku berkhianat.. .
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup
dan kehidupan
Rasa sayangku padamu lebih dari apa
yang kau duga Aku berdo’a … semoga kita
bisa menggapai husnul
khotimah
sehingga menjadi ahli syurga.
Aamiin…

zakat waktu

Matilah Kamu Selama 30 Menit! Mengapa 30 menit? apa rahasianya? Mungkin sebagian besar bertanya-tanya, mengapa kita diharuskan bermujahadah serta melatih nol, mati atau istighroq selama kurang lebih 30 menit setiap hari? bahkan dianjurkan membaca "Yaa Sayyidii Yaa Rosululloh" kurang lebih 30 menit setiap hati?

Apa rahasia dibalik itu semua?

Lagi-lagi kali ini kami akan membedah penalaran melalui pintu logika membongkar rahasia dibalik 30 menit. Akan tetapi sebelum kita masuk dalam ranah membedah rahasia dibalik 30 menit, tapi sebelum itu mari kita sejenak merenung.

Apa yang akan terjadi apabila kita tidak bisa bernafas? denyut jantung kita tiba-tiba berhenti berdetak? Lalu aliran darah mengalir tidak normal didalam tubuh, sehingga cuci darahpun menjadi suatu pilihan wajib agar terus bertahan hidup? Lalu berapa banyak anggaran dana apabila satu kali cuci darah menghabiskan uang 2 juta setiap 3 hari sekali untuk cuci darah? Begitupula dengan mata, apa yang terjadi urat syaraf mata kita terputus sehingga mata tidak bisa melihat? Atau lebih-lebih lagi nikmat iman telah dicabut didalam hati kita? Apa yang akan terjadi? hancur sudah hidup kita sehingga hidup kita tiada manfaat dan tiada arti sama sekali apabila kita tidak beriman.

Maka orang yang tahu diri pasti dia akan berterima kasih dan bersyukur dengan nikmat-nikmat yang telah diberikan!.

Pernahkah kita berpikir untuk mensyukuri dan menzakati itu semua? Dholim amat apabila kita tidak bersyukur kepadaNya?

Dia yang memberikan memberikan nikmat kepada kita tapi lupa!.

Dia yang menghidupkan kita, tapi seolah-olah kita merasa hidup!.

Dia yang memberi nikmat iman, tapi seolah olah kita merasa beriman!.

Lalu dimana akal sehat kita? dan siapa dibalik itu semua? hanya hati yang bersih dan jernih bisa merasakan!.

Maka mutlak zakat waktu harus ada!. Agar kita selalu beryukur dan tidak menjadi orang yang sombong merasa "AKU" dihadapanNya.

Lalu apa yang dimaksud zakat waktu itu? yaitu zakat meniadakan diri sehingga didalam hati benar-benar nol, mati, istighroq tidak merasa memiliki apa-apa atau dalam istilah wahidiyah itu Billah. Dengan metode yang sudah diajarkan pada postingan sebelumnya (lihat Metode Tidurnya Ashabul Kahfi)

Lalu hubungannya dengan 30 menit apa?

Mari kita konversikan dengan hitungan matematis.


Dimana

1 hari = 24 Jam maka 2,5% dari 24 Jam

24 Jam = 24 x 60 menit = 1440 menit x 2.5% = 36 menit


Jadi zakat waktu dimana 1 hari kita keluarkan 2,5% dari 24 jam adalah 36 menit harus merasa mati (nol, istighroq, billah). Kalau tidak bisa begitu berarti kita telah merampas haknya Alloh. Awas ! Hati-hati, bendera "AKU" akan berkibar.

Inilah mengapa Muallif Sholawat Wahidiyah menyuruh kepada pengamal untuk membaca "Yaa Sayyidi Yaa Rosulalloh" kurang lebih 30 menit setiap hari.

Satu lagi rahasia wahidiyah terbongkar melalui metode nol !.

Mudah-mudahan sharing kali ini bisa bermanfaat.

Salam Perjuangan Fafirru Ilalloh.
Oleh: Doktor Muhammad Andar.
Komite Palang Merah Amerika telah mengeluarkan laporan dalam lamanwebnya mengenai mayat-mayat (syuhada) Taliban dibandingkan mayat pasukan asing. Komite tersebut yang memiliki tugas mengambil dan mengubur mayat di provinsi Mazar Sharif Afghanistan, menunjukkan keheranannya mengapa tubuh mayat Taliban tidak rusak maupun mengeluarkan bau busuk?!
Laporan tersebut mengatakan bahwa investigator awalnya mengira bahwa karena cuaca dinginlah adanya fenomena itu, hanya saja teori tersebut hancur berkeping-keping karena tubuh pasukan dari sekutu utara yang tergeletak di area yang sama telah rusak dan mengeluarkan bau yang menjijikkan.
Laporan tersebut terus menyatakan bahwa mereka ingin melakukan penelitian tentang makanan yang dimakan oleh pejuang Taliban! Para peneliti juga ingin mencari tahu apakah adanya korelasi antara makanan dan darah karena darahnya beberapa Taliban tetap hangat walau setelah kematiannya!
(Sumber: Al-Misryoon, Ana Muslim dan beberapa website lainnya)
Adalah hadiah dari Allah SWT apabila musuh mengakui di depan teman-temannya mengenai mukjizat yang ditunjukkan melalui syuhada Taliban karena pembantaian pasukan salib. Harus dikemukakan bahwa jika semua peneliti maupun ilmuan biologi di planet ini mau bergabung dan meneliti seumur hidupnya, mereka tidak akan pernah menemukan jawabannya terhadap kasus yang membingungkan ini. Tanpa kita ketahui, bisa jadi mereka malah mencoba untuk menemukan tubuh Ibrahim AS yang penuh berkah dan mempelajari struktur biologinya sehingga mereka bisa membuat baju anti api untuk para prajuritnya.
Teringat pidato dari ulama terkenal, Ustaz Yasir, pada saat pemakaman komandan terbaik dari Imarah Islam, Syahid Mullah Abdul Manaan Ahmad rahimahullah: "Di sini saya akan memberikan sedikit contoh yang dapat dimengerti semua orang dan tidak ada yang bisa mengingkari tentang kenapa Taliban adalah di sisi yang benar dan rezim Kabul di sisi yang bathil; Kenapa mayat kami tidak rusak dan mengeluarkan bau busuk sedangkan mayat oposisi kami membusuk dan baunya sangat menyengat?!"
Berhubung aroma dari syahid Mullah Abdul Manaan terus-terusan semerbak, ustad yang disegani itupun menambahkan: "Saya tantang semua orang untuk datang! Mari ambil satu mayat dari sisi kami dan satu dari sisi musuh yang terbunuh pada saat bersamaan dan oleh senjata yang sama. Kita akan meninggalkan mereka dalam kondisi fisik dan kimia yang sama. Lalu mari kita perhatikan, bahwa mayat dari sisi kami mewangi seperti misik dan tampa lebih indah dan mayat lainnya menggembung dan mulai rusak dan baunya busuk! Sekarang biarkan spesialis dunia dalam bidang sains dan kimia menginvestigasi dan temukan alasannya."
Kita juga jangan lupakan salah satu faktor desersi dalam pasukan Kabul adalah karena mukjizat yang ditunjukkan melalui para syuhada Taliban. Satu kelompok prajurit ANA (Afghan National Army) di provinsi Nangarhar, distrik Ghani Khel yang meninggalkan tugasnya memberitahukan alasan dari desersi mereka yaitu: "Satu ketika kita bertarung hadap-hadapan dengan Taliban di provinsi Kandahar,  Taliban mundur sedangkan mayat dari sisi kami dan mereka tergeletak di medan perang. Lalu kami diperintahkan untuk berdiam di area tersebut pada malam hari. Waktu pun berlalu, mayat kami mulai rusak dan mengeluarkan bau sangat menyengat yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di sisi lain, mayat Taliban mulai mengeluarkan bau yang asing tapi harum dan indah. Saat itu juga, teman-teman kami meninggalkan mayat temannya dan duduk di sebelah mayat syuhada Taliban". Prajurit itu menambahkan: "Jadi pada pagi harinya, aku dan teman-temanku mengemas barang-barang pribadi kami dan meninggalkan semuanya, padahal tinggal dua atau tiga hari lagi mendapatkan gaji dan pulang!!"
Satu buku tentang mukjizat yang ditunjukkan melalui syuhada dalam jihad melawan soviet telah dirangkum oleh ulama syahid terkenal Syaikh Abdullah Azzam rahimullah dalam sebuah judul "Ayat ar Rahmaan fi Jihad al Afghan" yang dalamnya ratusan insiden telah disampaikan. Jadi semoga Allah memberikan ulama zaman ini keteguhan untuk menyingsingkan lengan bajunya dan menulis tentang mukjizat-mukjizat yang ditampakkan dalam medan perang dan oleh para syuhada dalam jihad saat ini, sehingga manusia dapat membedakan antara kebenaran dan kebathilan dan akhirnya akan bergabung dengan kebenaran.


by; arrahman.com

Senin, 16 Juli 2012

apakah itu cinta

menurutkuw
cinta itu keindahan
cinta itu nafsu
cinta itu sesuatu yang mungkin akan susah untuk mengungkapkannya
cinta itu hal yang wajar
cinta itu anugrah
cinta itu sesuatu yang spesial
cinta itu keburukan
cinta itu BRENGSEK
cinta itu bentuk aura positif dan negatif
cinta itu tak memandang
cinta itu tak mendengar
cinta itu tak ter arah
cinta itu sesuatu yang menyenangkan
cinta itu yang menyengsarakan,,,,


btw akuw hanya kebingungan dengan cinta, karena sampai sa'at ini aku tak mengerti itu cinta,,

Rabu, 11 Juli 2012



Abad 21 merupakan abad terberat dan terhebat, kecanggihan teknologi tidak bisa dibendung dan dihindari lagi, pegeseran dari makhluk nomaden menuju makhluk modern sudah terjadi bak jamur yang tumbuh subur, tak terelakkan lagi pergeseran nilai Ketuhanan sudah mulai nampak terjadi, banyak orang sudah mulai eksodus dari ketauhidan menuju kepada mengagung-agungkan akal dan logikanya, ini sudah mulai terbukti, paham-paham kapitalis dan duniawi sudah meracuni hati umat manusia, sehingga semua serba pehitungan tanpa mengindahkan hukum dari Tuhan. Masalah otak mulai gencar di di seminarkan,baik otak kiri, otak kanan, mau maupun otak tengah. akan tetapi masalah hati? mengapa tidak ada yang pernah menggali? dimana hati tempat sebuah kedamaian dan tempat sebuah kesucian. Ironinya pelaku-pelaku yang menggali masalah otak tersanjung dan disanjung, Bagaikan pahlawan dalam kehidupan didunia ini, Sedangkan pelaku-pelaku pembersih hati dan jiwa tenggelam dan ditenggelamkan.

Ada fenomena apa dalam kehidupan ini?

Pada situasi saat ini kegalauan, kegelisahan, rasa cemas mencekam, tiada lagi titik perdamain, alam semakin tidak bersahabat, bencana tejadi dimana-mana baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan, karena manusia sudah kehilangan jati dirinya sehingga manusia bukan berjiwa sebagai manusia lagi akan tetapi manusia yang anarkis, buas seperti serigala haus dengan darah mangsanya, hukum rimba terjadi dimana-mana, siapa yang kuat dialah pemenangnya. sehingga seorang berani membunuh saudaranya, ayah bahkan ibunya sendiri. perzinaan dilakukan terang-terangan, Orang amanah dituduh berkhianat, sedangkan orang yang khianat diberi amanat.

Tiada lagi suatu penerang jiwa, dan penyejuk hati, karena manusia bukan lagi sebagai hamba akan tetapi manusia telah menjadi Tuhan-Tuhan baru yang bermunculan dimuka bumi. Merasa kuat, merasa berkuasa, bahkan merasa memiliki. Kebodohan hati menjadi dominan, maka inilah pertanda detik-detik hancurnya dunia akan terjadi.zaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api.

Sifat anakris sudah merebak dimana-mana terutama dikalangan generasi muda, lihatlah tragedi Kerusuhan yang baru-baru ini terjadi, masih ingatkah kejadian bencana kemanusiaan di Tarakan yang baru-baru ini terjadi, ataupun kejadian malam minggu berdarah di Blowfish , Jakarta hanya gara-gara berebut lahan sehingga baku tembak terjadi, tak terelakkan lagi sekali lagi korban berjatuhan. Atau yang lebih parah lagi pembantaian berdarah di jalur gaza yang menelan ribuan jumlah orang yang mati syahid karena kebringasan pemimpin bangsa. dan ironinya umat islam terbelalak terbengong tiada daya untuk membela saudara kaum muslim di palestina itu, hanya raungan ompong "mengutuk" kebiadaban zionis israel. ataupun tragedi kelam sejarah anak manusia mulai perang dunia 1, 2 yang membunuh jutaan nyawa tak berdosa, serta masih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang telah terjadi di atas bumi ini, yang jelas intinya adalah Anarkis dan Tidak Berkprimanusiaan!.

Dari mana semua itu berasal? Yang menjadikan manusia menjadi anarkis, brutal dan tidak ada Kasih Sayang diantara sesama? renungakanlah wahai saudaraku?

Jawabannya hanya satu! Otaklah sebagai "Dalang Utama" dimana pada posisi otak yang mengusai hati, bukan sebaliknya semestinya hati yang mengusai otak, akal ataupun pikiran. maka jangan kaget, Ternyata otak dalang utama kehancuran dunia!

Maka situasi yang sedemikian ini patutlah kita harus kembali pada pendidikan "Karakter Manusia Berbasis Hamba" dimana manusia sebagai kholifah dan dimana manusia sebagai hamba Tuhan.

Adzariyat ayat 56: "dan tidaklah AKU (Alloh) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaKu".

Maka dari itu kita harus menemukan formula yang tepat agar manusia tetap sebagai manusia yang santun, manusia yang lemah lembut, dan manusia yang bersaudara bukan manusia sebagai Tuhan yang merasa berkuasa, merasa hebat, serta merasa memiliki. Sehingga menjadi anarkis dan kejam.

Dan yang mampu menghancurkan karakater-karakter pengakuan sebagai Tuhan (Merasa mampu, yang merasa berkuasa, merasa hebat, merasa menjadi penulis, serta merasa memiliki). hanya kekuatan mutlak yang mana kekuatan itu senantiasa bersama manusia dimana dan kapanpun berada.

Al Hadid ayat 4 : "….Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada…."

Ironinya kekuatan agung itu tidak bisa disandingkan atau disekutukan dengan apapun walaupun sekecil atom perasaan aku, maka mutlak manusia harus meleburkan perasaan akunya. Karena kalimat Allah Yang Maha Agung inilah yang bersumber dari produk hati yang suci dan produk jiwa yang betul-betul sejati dan muncul dari jiwa betul-betul murni sebagai hamba, bukan jiwa munafik, bukan pula jiwa yang pengecut.

Maka Sekecil mempunyai perasaan aku pasti tidak akan datang kekuatan agung itu, sebiji atom manusia merasa bisa tidak akan datang kekuatan agung itu didalam jiwa manusia.

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (sebiji atom)-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun (sebiji atom), niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8).

Renungkanlah? murnikah kita sebagai hamba? atau masih merasa ada pengakuan sebagai Tuhan?



Abad 21 merupakan abad terberat dan terhebat, kecanggihan teknologi tidak bisa dibendung dan dihindari lagi, pegeseran dari makhluk nomaden menuju makhluk modern sudah terjadi bak jamur yang tumbuh subur, tak terelakkan lagi pergeseran nilai Ketuhanan sudah mulai nampak terjadi, banyak orang sudah mulai eksodus dari ketauhidan menuju kepada mengagung-agungkan akal dan logikanya, ini sudah mulai terbukti, paham-paham kapitalis dan duniawi sudah meracuni hati umat manusia, sehingga semua serba pehitungan tanpa mengindahkan hukum dari Tuhan. Masalah otak mulai gencar di di seminarkan,baik otak kiri, otak kanan, mau maupun otak tengah. akan tetapi masalah hati? mengapa tidak ada yang pernah menggali? dimana hati tempat sebuah kedamaian dan tempat sebuah kesucian. Ironinya pelaku-pelaku yang menggali masalah otak tersanjung dan disanjung, Bagaikan pahlawan dalam kehidupan didunia ini, Sedangkan pelaku-pelaku pembersih hati dan jiwa tenggelam dan ditenggelamkan.

Ada fenomena apa dalam kehidupan ini?

Pada situasi saat ini kegalauan, kegelisahan, rasa cemas mencekam, tiada lagi titik perdamain, alam semakin tidak bersahabat, bencana tejadi dimana-mana baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan, karena manusia sudah kehilangan jati dirinya sehingga manusia bukan berjiwa sebagai manusia lagi akan tetapi manusia yang anarkis, buas seperti serigala haus dengan darah mangsanya, hukum rimba terjadi dimana-mana, siapa yang kuat dialah pemenangnya. sehingga seorang berani membunuh saudaranya, ayah bahkan ibunya sendiri. perzinaan dilakukan terang-terangan, Orang amanah dituduh berkhianat, sedangkan orang yang khianat diberi amanat.

Tiada lagi suatu penerang jiwa, dan penyejuk hati, karena manusia bukan lagi sebagai hamba akan tetapi manusia telah menjadi Tuhan-Tuhan baru yang bermunculan dimuka bumi. Merasa kuat, merasa berkuasa, bahkan merasa memiliki. Kebodohan hati menjadi dominan, maka inilah pertanda detik-detik hancurnya dunia akan terjadi.zaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api.

Sifat anakris sudah merebak dimana-mana terutama dikalangan generasi muda, lihatlah tragedi Kerusuhan yang baru-baru ini terjadi, masih ingatkah kejadian bencana kemanusiaan di Tarakan yang baru-baru ini terjadi, ataupun kejadian malam minggu berdarah di Blowfish , Jakarta hanya gara-gara berebut lahan sehingga baku tembak terjadi, tak terelakkan lagi sekali lagi korban berjatuhan. Atau yang lebih parah lagi pembantaian berdarah di jalur gaza yang menelan ribuan jumlah orang yang mati syahid karena kebringasan pemimpin bangsa. dan ironinya umat islam terbelalak terbengong tiada daya untuk membela saudara kaum muslim di palestina itu, hanya raungan ompong "mengutuk" kebiadaban zionis israel. ataupun tragedi kelam sejarah anak manusia mulai perang dunia 1, 2 yang membunuh jutaan nyawa tak berdosa, serta masih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang telah terjadi di atas bumi ini, yang jelas intinya adalah Anarkis dan Tidak Berkprimanusiaan!.

Dari mana semua itu berasal? Yang menjadikan manusia menjadi anarkis, brutal dan tidak ada Kasih Sayang diantara sesama? renungakanlah wahai saudaraku?

Jawabannya hanya satu! Otaklah sebagai "Dalang Utama" dimana pada posisi otak yang mengusai hati, bukan sebaliknya semestinya hati yang mengusai otak, akal ataupun pikiran. maka jangan kaget, Ternyata otak dalang utama kehancuran dunia!

Maka situasi yang sedemikian ini patutlah kita harus kembali pada pendidikan "Karakter Manusia Berbasis Hamba" dimana manusia sebagai kholifah dan dimana manusia sebagai hamba Tuhan.

Adzariyat ayat 56: "dan tidaklah AKU (Alloh) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaKu".

Maka dari itu kita harus menemukan formula yang tepat agar manusia tetap sebagai manusia yang santun, manusia yang lemah lembut, dan manusia yang bersaudara bukan manusia sebagai Tuhan yang merasa berkuasa, merasa hebat, serta merasa memiliki. Sehingga menjadi anarkis dan kejam.

Dan yang mampu menghancurkan karakater-karakter pengakuan sebagai Tuhan (Merasa mampu, yang merasa berkuasa, merasa hebat, merasa menjadi penulis, serta merasa memiliki). hanya kekuatan mutlak yang mana kekuatan itu senantiasa bersama manusia dimana dan kapanpun berada.

Al Hadid ayat 4 : "….Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada…."

Ironinya kekuatan agung itu tidak bisa disandingkan atau disekutukan dengan apapun walaupun sekecil atom perasaan aku, maka mutlak manusia harus meleburkan perasaan akunya. Karena kalimat Allah Yang Maha Agung inilah yang bersumber dari produk hati yang suci dan produk jiwa yang betul-betul sejati dan muncul dari jiwa betul-betul murni sebagai hamba, bukan jiwa munafik, bukan pula jiwa yang pengecut.

Maka Sekecil mempunyai perasaan aku pasti tidak akan datang kekuatan agung itu, sebiji atom manusia merasa bisa tidak akan datang kekuatan agung itu didalam jiwa manusia.

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (sebiji atom)-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun (sebiji atom), niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8).

Renungkanlah? murnikah kita sebagai hamba? atau masih merasa ada pengakuan sebagai Tuhan?



Abad 21 merupakan abad terberat dan terhebat, kecanggihan teknologi tidak bisa dibendung dan dihindari lagi, pegeseran dari makhluk nomaden menuju makhluk modern sudah terjadi bak jamur yang tumbuh subur, tak terelakkan lagi pergeseran nilai Ketuhanan sudah mulai nampak terjadi, banyak orang sudah mulai eksodus dari ketauhidan menuju kepada mengagung-agungkan akal dan logikanya, ini sudah mulai terbukti, paham-paham kapitalis dan duniawi sudah meracuni hati umat manusia, sehingga semua serba pehitungan tanpa mengindahkan hukum dari Tuhan. Masalah otak mulai gencar di di seminarkan,baik otak kiri, otak kanan, mau maupun otak tengah. akan tetapi masalah hati? mengapa tidak ada yang pernah menggali? dimana hati tempat sebuah kedamaian dan tempat sebuah kesucian. Ironinya pelaku-pelaku yang menggali masalah otak tersanjung dan disanjung, Bagaikan pahlawan dalam kehidupan didunia ini, Sedangkan pelaku-pelaku pembersih hati dan jiwa tenggelam dan ditenggelamkan.

Ada fenomena apa dalam kehidupan ini?

Pada situasi saat ini kegalauan, kegelisahan, rasa cemas mencekam, tiada lagi titik perdamain, alam semakin tidak bersahabat, bencana tejadi dimana-mana baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan, karena manusia sudah kehilangan jati dirinya sehingga manusia bukan berjiwa sebagai manusia lagi akan tetapi manusia yang anarkis, buas seperti serigala haus dengan darah mangsanya, hukum rimba terjadi dimana-mana, siapa yang kuat dialah pemenangnya. sehingga seorang berani membunuh saudaranya, ayah bahkan ibunya sendiri. perzinaan dilakukan terang-terangan, Orang amanah dituduh berkhianat, sedangkan orang yang khianat diberi amanat.

Tiada lagi suatu penerang jiwa, dan penyejuk hati, karena manusia bukan lagi sebagai hamba akan tetapi manusia telah menjadi Tuhan-Tuhan baru yang bermunculan dimuka bumi. Merasa kuat, merasa berkuasa, bahkan merasa memiliki. Kebodohan hati menjadi dominan, maka inilah pertanda detik-detik hancurnya dunia akan terjadi.zaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api.

Sifat anakris sudah merebak dimana-mana terutama dikalangan generasi muda, lihatlah tragedi Kerusuhan yang baru-baru ini terjadi, masih ingatkah kejadian bencana kemanusiaan di Tarakan yang baru-baru ini terjadi, ataupun kejadian malam minggu berdarah di Blowfish , Jakarta hanya gara-gara berebut lahan sehingga baku tembak terjadi, tak terelakkan lagi sekali lagi korban berjatuhan. Atau yang lebih parah lagi pembantaian berdarah di jalur gaza yang menelan ribuan jumlah orang yang mati syahid karena kebringasan pemimpin bangsa. dan ironinya umat islam terbelalak terbengong tiada daya untuk membela saudara kaum muslim di palestina itu, hanya raungan ompong "mengutuk" kebiadaban zionis israel. ataupun tragedi kelam sejarah anak manusia mulai perang dunia 1, 2 yang membunuh jutaan nyawa tak berdosa, serta masih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang telah terjadi di atas bumi ini, yang jelas intinya adalah Anarkis dan Tidak Berkprimanusiaan!.

Dari mana semua itu berasal? Yang menjadikan manusia menjadi anarkis, brutal dan tidak ada Kasih Sayang diantara sesama? renungakanlah wahai saudaraku?

Jawabannya hanya satu! Otaklah sebagai "Dalang Utama" dimana pada posisi otak yang mengusai hati, bukan sebaliknya semestinya hati yang mengusai otak, akal ataupun pikiran. maka jangan kaget, Ternyata otak dalang utama kehancuran dunia!

Maka situasi yang sedemikian ini patutlah kita harus kembali pada pendidikan "Karakter Manusia Berbasis Hamba" dimana manusia sebagai kholifah dan dimana manusia sebagai hamba Tuhan.

Adzariyat ayat 56: "dan tidaklah AKU (Alloh) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaKu".

Maka dari itu kita harus menemukan formula yang tepat agar manusia tetap sebagai manusia yang santun, manusia yang lemah lembut, dan manusia yang bersaudara bukan manusia sebagai Tuhan yang merasa berkuasa, merasa hebat, serta merasa memiliki. Sehingga menjadi anarkis dan kejam.

Dan yang mampu menghancurkan karakater-karakter pengakuan sebagai Tuhan (Merasa mampu, yang merasa berkuasa, merasa hebat, merasa menjadi penulis, serta merasa memiliki). hanya kekuatan mutlak yang mana kekuatan itu senantiasa bersama manusia dimana dan kapanpun berada.

Al Hadid ayat 4 : "….Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada…."

Ironinya kekuatan agung itu tidak bisa disandingkan atau disekutukan dengan apapun walaupun sekecil atom perasaan aku, maka mutlak manusia harus meleburkan perasaan akunya. Karena kalimat Allah Yang Maha Agung inilah yang bersumber dari produk hati yang suci dan produk jiwa yang betul-betul sejati dan muncul dari jiwa betul-betul murni sebagai hamba, bukan jiwa munafik, bukan pula jiwa yang pengecut.

Maka Sekecil mempunyai perasaan aku pasti tidak akan datang kekuatan agung itu, sebiji atom manusia merasa bisa tidak akan datang kekuatan agung itu didalam jiwa manusia.

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (sebiji atom)-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun (sebiji atom), niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8).

Renungkanlah? murnikah kita sebagai hamba? atau masih merasa ada pengakuan sebagai Tuhan?

mengertilah


Selama ini, syahadat umumnya hanya
dipahami sebagai bentuk mengucapkan
kata
Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa
asyhadu anna Muhammad al-rasul Allah
.
Dan karena hanya pengucapan, wajar jika
tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap mental manusia. Siapapun toh dapat
mengucapkannya, walau kebanyakan tidak
memahaminya. Padahal makna
sesungguhnya bahwa syahadat adalah
kesaksian bukan pengucapan kalimat
yang menyatakan bahwa ia telah bersaksi. Ketika kita mengucakan kata
Allah, maka
kata ini harus hadir dan lahir dari keyakinan
yang mendalam. Pada saat pengucapan,
kita harus yakin bahwa Allah
ada pada diri
nabi-Nya, dan bahwa setiap diri kita mampu
membawa peran nabi tersebut. Dalam ma
rifat, nabi dan kenabian sebagai suatu
hal yang selalu hidup. Dan ketika person
nabi terakhir diberi label
Muhammad,
maka ia adalah langsung dari nur dan ruh
Muhammad, dan menyandang nama
spiritual sebagai
Ahmad. Dan ketika kata Ahmad disebutkan, Nabi Muhammad
sering mengemukakan bahwa
ana Ahmad
bila mim
(aku adalah Ahmad yang tanpa
mim), yakni
Ahad. Ketika suku bangsa
dzahir
arab disebutkan, beliau sering
mengemukakan
ana arabun bila Ain, (aku adalah Arab tanpa Ain), yakni
Rabb. Inilah kesaksian itu, atau syahadat.
Kalau kita membayangkan nabi secara
fisikal maka kita akan menghayalkan
tentang nabi. Nah, pada saat Allah kita
rasakan hadir atau bersemayam dalam diri Nabi yang berada di kedalaman lubuk hati
kita, maka terlepaslah ucapan
Muhammad
al-Rasul Allah
sebagai kesaksian. Lalu
kesaksian ini kita lepaskan ke dalamDzat
Allah. Sehingga kemudian tercipta apa
yang disebut sebagai
Tunggal ing Allah hiya kang amuji hiya kang pimuji,
kemanunggalan dengan Allah sehingga
baik yang memuji dan yang dipuji tidak
dapat dipisahkan. Pada konteks syahadat
yang seperti itulah kemudian lahir ajaran
tentang
wirid sasahidan dari Syekh Siti Jenar, dalam bentuk pengucapan hati
sebagai berikut (Sholikhin: 2004, 182-183)
Ingsun anakseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ono pangeran among ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku
utusaningsun Iya sejatine kang aran Allah iku badaningsun Rasul iku rahsaningsun
Muhammad iku cahyaningsun Iya ingsun
kang urip tan kena ing pati Iya ingsun kang
eling tak kena lali Iya ingsun kang langgeng
ora kena owah gingsir ing kahanan jati Iya
ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji Iya ingsun kang amurba amisesa,
kang kawasa wicaksana ora kekurangan
ing pakerti Byar Sampurna padhang
terawangan Ora kerasa apa-apa Oa ana
katon apa-apa Mung ingsun kang nglimputi
ing alam kabeh Kalawan kodratingsun. Artinya: Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku
sendiri Sesungguhnya tiada tuhan selain
Aku Aku bersaksi sesungguhnya
Muhammad itu utusan-Ku Sesungguhnya
yang disebut Allah itu badan-Ku Rasul itu
rasa-Ku Muhammad itu cahaya-Ku Akulah yang hidup tidak terkena kematian Akulah
yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena
perubahan di segala keadaan Akulah yang
selalu mengawasi dan tidak ada
sesuatupun yang luput dari pengawasan- Ku Akulah yang maha kuasa, yang
bijaksana, tiada kekurangan dalam
pengertian Byar Sempurna terang
benderang Tidak terasa apa-apa Tidak
kelihatan apa-apa Hanya aku yang meliputi
seluruh alam Dengan kodrat-Ku Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa
kesaksian tersebut diperoleh berdasarkan
lelaku. Maka setelah lahirnya kesaksian
tersebut juga harus disertai dengan lelaku
pula. Yaitu diikuti dengan semedi atau dzikir
rasa sehingga kemudian dapat mengalami mati dalam hidup dan hidup dalam mati.
Dzikir seperti ini dilakukan dengan meng-
heneng-kan diri dan mengheningkan cipta
serta karsa sehingga kembali tercipta
kesatuan hati, pikiran dan rasa hidup. Hal ini
dilakukan dengan menyatukan pancaindera, memejamkan mata dan
mengarahkannya ke pucuk hidung
(pucuking ghrana), sambil menyatukan
denyut jantung, harus diatur pula
pernapasan yang masuk dan keluar jangan
sampai tumpang tindih. Biasanya praktik sasahidan ini akan berujung pada
bercampurnya rasa hati dan hilangnya
segenap perasaan. Kalau sudah mencapai
kondisi ini, maka harus diturunkan ke dalam
jiwa dan menyebar ke seluruh sel-sel dan
syaraf tubuh. Sehingga akan tercapailah ketiadaan rasa apapun dan akan
memunculkan sikap ke- waskitha-an (eling
lan waspadha). Dengan demikian wajar jika
pada kesimpulannya tentang makna
syahadat, Syekh Siti Jenar memberikan
makna syahadat sebagai etos gerak, etos kerja yang positif, progresif, dan aktif. Syekh
siti jenar mengemukakan bahwa syahadat
tauhid dan syahadat rasul mengandung
makna jatuhnya rasa (menjadi etos),
kesejatian rasa (unsur motorik), bertemunya
rasa (ide aktif dan kreatif), hasil karya yang maujud serta dampak terhadap kesejatian
kehidupan (Sholikhin: 2004, 187). Itulah
makna syahadat yang sesungguhnya dari
sang insan kamil. 2. Sholat
Peliharalah
shalatmu dan shalat wustha. Berdirilah
untuk Allah (dalam shalat) yang khusyuk
(QS Al. Baqarah/ 2:238). Ini
adalah penegasan dari Allah tentang
kewajiban dan keharusan memelihara
shalat, baik segi dzahir maupun batin
dengan titik tekan
khusyuk, kondisi batin
yang mantap. Secara lahir, shalat dilakukan dengan berdiri, membaca Al-Fatihah, sujud,
duduk dsb. Kesemuanya melibatkan
keseluruhan anggota badan. Inilah shalat
jasmani dan fisikal. Karena semua gerakan
badan berlaku dalam semua shalat, maka
dalam ayat tersebut disebut shalawaati (segala shalat) yang berarti jamak. Dan ini
menjadi bagian pertama, yakni bagian
lahiriah. Bagian kedua adalah tentang
shalat wustha, yaitu yang secara sufistik
adalah shalat hati. Wustha dapat diartikan
pertengahan atau tengah-tengah. Karena hati terletak di tengah, yakni di tengah
diri,
maka dikatakan shalat wustha sebagai
shalat hati. Tujuan shalat ini adalah untuk
mendapatkan kedamaian dan ketentraman
hati. Hati terletak di tengah-tengah, antara
kiri dan kanan, antara depan dan belakang, atas dan bawah, serta antara baik dan
jahat. Hati menjadi titik tengah, poin
pertimbangan. Hati juga diibaratkan berada
diantara dua jari Allah, dimana Allah
membolak- balikkannya ke mana saja yang
ia kehendaki. Maksud dari dua jari Allah adalah dua sifat Allah, yaitu sifat Yang
Menghukum dan Meng-adzab dengan sifat
Yang Indah, Yang Kasih Sayang, dan Yang
Lemah Lembut. Sholat dan ibadah yang
sebenarnya adalah sholat serta ibadahnya
hati, kondisi khusyu
menghadapi kehidupan. Bila hati lalai dan tidak khusyuk,
maka jasmaniahnya akan berantakan.
Sehingga kalau ini terjadi, kedamaian yang
didambakan akan hancur pula. Apalagi
shalat jasmani hanya bisa dicapai dengan
hati yang khusyuk. Kalau hati tidak khusyuk, serta tidak dapat konsentrasi pada arah
yang dituju dari shalat, maka hal itu tidak
bisa disebut shalat. Juga tidak akan dapat
dipahami apa yang diucapkan, dan tentu
apa pun yang dilakukan dengan bacaan
dan gerakannya tidakakan bisa mengantarkan sampai kepada Allah.
Urgensi ke-khusyuk-an ini berhubungan
dengan inti shalat sebagai doa. Doa atau
munajat, bukan sekedar permintaan hamba
kepada Allah, akan tetapi berarti juga
sebagai arena pertemuan. Dan tempat pertemuan itu adalah di dalam hati. Maka
jika hati tertutup di dalam shalat, tidak peduli
akan makna shalat rohani, shalat yang
dilakukan tersebut tidak akan memberikan
manfaat apa pun. Sebab semua yang
dilakukan jasmaninya sangat tergantung kepada hati sebagai Dzat untuk badan.
Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada
sekeping daging, apabila daging itu baik,
baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia
rusak, rusak pulalah semua tubuh itu.
Daging itu adalah hati.
(sabda Rasulullah) Ke-khusyuk-an hati akan membawa sholat
yang menghasilkan kesehatan hati. Shalat
khusyuk akan menjadi obat bagi hati yang
rusak dan jahat serta berpenyakit. Maka
shalat yang baik haruslah dengan hati yang
sehat dan baik pula, bukan dengan hati yang rusak, yakni hati yang tidak dapat
hadir kepada Allah. Jika shalat dari sisi
jasmaniah-fisik memiliki keterbatasan dalam
semua hal, baik tempat, waktu, kesucian
badan, pakaian, dsb, maka shalat dari segi
rohaniah tidak terbatas dan tidak dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.
Shalat secara rohaniah tidak terikat oleh
ruang dan waktu. Shalat ini selalu dilakukan
terus menerus sejak di dunia hingga akhirat.
Masjid untuk shalat rohani terletak dalam
hati. Jamaahnya terdiri dari anggota- anggota batin atau daya-daya rohaniah
yang ber-dzikir dan membaca al-asma
al-
husna dalam bahasa alam rohaniah. Imam
dalam shalat rohani adalah kemauan atau
keinginan (niat) yang kuat. Dan kiblatnya
adalah Allah. Inilah shalat tarek dan sholat daim yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar.
Shalat yang demikian itu hanya dapat
dilakukan oleh hati yang ikhlas, hati yang
tidak tidur, dan hati yang tidak mati. Hati dan
jiwa seperti itu kekal dan selalu beribadah
atau shalat ketika jasmaninya sedang tertidur atau terjaga. Ibadah hati dilakukan
sepanjang hayat, dan sepanjang hayatnya
adalah untuk beribadah. Inilah ibadah
orang yang sudah mencapai ma
rifatullah,
tempat penyucian tertinggi. Di tempat itu, ia
ada tanpa dirinya. Karena dirinya telah fana
, telah hilang lenyap. Ingatannya yang
teguh dan suci tercurah hanya kepada
Allah. Namun tentu saja ini berlaku setelah
semua shalat-shalat fardhu dan nawafil
dilaksanakan secara konsisten. Jadi, tempat
suci tersebut baru bisa dijangkau setelah semua shalat syari
at itu sempurna, lalu
masuk ke dalam shalat thariqat dan ma
rifat.
Maka tidak bisa diartikan bahwa jika sudah
berada di tingkatan ini, lalu tidak lagi
melakukan shalat sama sekali. Bahkan
sering dalam shalat itulah mereka mengalami fana
dalam munajat-nya
sehingga ibadah yang dilakukannya itu
menyita banyak waktu. Hanya saja bentuk
shalat dalam arti gerakan dan bacaan
tertentu sudah tidak mengikat lagi. Shalat
ditegakkan atas kemerdekaan rohani dalam menempuh laku menuju Allah. Pada
tingkatan ini tidak ada lagi bacaan di mulut.
Tidak ada lagi gerakan berdiri, ruku
, sujud,
dsb. Dia telah berbincang dengan Allah
sebagaimana firman-Nya
Hanya Engkau
yang kami sembah, dan hanya Engkaulah kami memohon pertolongan
(QS Al-
Fatihah/1: 5) Firman tersebut menunjukkan
betapa tingginya kesadaran insan kamil,
yakni mereka yang telah melalui beberapa
tingkatan alam rasa dan pengalaman
rohani sehingga tenggelam dalam lautan tauhid atau Ke-Esaan Allah dan ber
padu
dengan-Nya. Nikmat yang mereka rasakan
saat itu tidak dapat diungkapkan dengan
kata-kata. Hanya orang yang
mengalaminya yang dapat mengalaminya
yang dapat mengartikan kenikmatan tersebut. Namun mereka pun sering tidak
mau mengungkapkannya. Tidak ingin
membocorkan rahasia Ketuhanan yang
tersimpan di dalam lubuk hatinya oleh Allah.
Hal tersebut sama halnya dengan hakikat
takbir, yang bukan semata-mata ucapan
Allahu Akbar. Takbir merupakan
pengucapan yang lahir dari firman Allah
yang memuji kebesaran Dzat-Nya. Jadi,
takbir sebenarnya merupakan suara Tuhan
yang meminjam mulut hamba-Nya. Bukan
hasil dari dorongan emosional. Karenanya, takbir sejati adalah menyatakan kebesaran
Allah dari af
al Allah sendiri. Takbir sejati
merupakan penghayatan diri terhadap sifat
Allah. Dan takbir sejati adalah penyebutan
nama-Nya yang lahir dari kehendak-Nya
semata. Dengan takbir yang demikian itu maka yang lain menjadi sangat kecil, dan
menjadi tidak ada. Yang ada hanya Allah.
Ke mana pun kita menghadap yang ada
hanya Wajah Allah. Maka setelah berpadu
ibadah lahir dan batin secara harmonis,
sempurnalah ibadah seseorang. Hati dan ruh seperti tergambar itu membawanya
masuk ke Hadirat Allah. Hatinya ber
padu
mesra dengan Allah. Dalam alam nyata ia
menjadi hamba yang wara
dan alim.
Dalam alam rohani ia menjadi ahli ma
rifah
yang telah sampai pada peringkat kesempurnaan mengenal Allah. Inilah
makna bahwa shalat adalah perjalanan
menuju Allah. Hasilnya adalah bahwa shalat
yang dilaksanakan mencegah perilaku
yang keji dan munkar. Sebaliknya
menghasilkankehalusan dan kemuliaan budi dan perilaku. Jika shalat telah
dihilangkan makna hakikatnya, hanya
menjadi sekedar pelaksanaan hukum fikih
sebagaimana tampak pada kebanyakan
manusia dewasa ini, maka shalat tersebut
telah kehilangan makna fungsionalnya. Hal inilah yang telah mendatangkan kritik tajam
dari Syekh Siti Jenar. Sadat salat pasa tan
apti Seje jakat kaji mring Mekah Iku wes
palson kabeh Nora kena ginugu Sadayeku
durjaning bumi Ngapusi liyan titah Sinung
swarga besuk Wong bodho anu auliya Tur nyatane pada bae durung uning Artinya:
Syahadat, sholat, puasa semua tanpa
makna Termasuk zakat dan haji ke Mekah
Itu semua telah menjadi palsu Tidak bisa
dijadikan anutan Hanya menghasilkan
kerusakan di bumi Membohongi makhluk lain Hanya ingin surga kelak Orang bodoh
mengikuti para wali Sementara
kenyataannya sama saja belum mencapai
tahapan hening Syekh Siti Jenar mengkritik
pelaksanaan hukum fikih pada masa
walisanga karena ibadah-ibadah formal tersebut telah kehilangan makna dan
tujuan, kehilangan arti, dan hikmah
kehidupan. Hal itu menjadikan semua
ajaran agama yang diajarkan oleh para
ulama ketika itu menjadi kebohongan yang
meninabobokkan publik dengan hanya menginginkan surga kelak yang belum ada
kenyataanya. Oleh karenanya Syekh Siti
Jenar mengajarkan praktik shalat
fungsional, berbeda dengan para wali pada
masanya. Shalat tarek sebagai bentuk
ketaatan syari
at, dan shalat daim sebagai shalat yang tertanam dalam jiwa, dan
mewarnai seluruh pekerti kehidupan.
Seseorang yang melaksanakan pekerjaan
profesionalnya secara benar, disiplin, ikhlas,
dan karena melaksanakan fungsi lillahi
ta
ala, maka orang tersebut disebut melaksanakan shalat. Itulah bagian dari
shalat da
im. Namun ternyata, ajaran shalat
fungsional tersebut tidak hanya menjadi
milik Syekh Siti Jenar. Di dalam Suluk Wujil
bait 12-13, sebuah naskah yang ditulis pada
awal abad ke-17, yang disebut-sebut sebagai warisan ajaran Sunan Bonang,
menyebutkan ajaran shalat sebagai berikut:
Utamaning sarira puniki Angrawuhana
jatining salat Sembah lawan pamujine
Jatining salat iku Dudu ngisa tuwin magerib
Sembahyang araneka Wenange punika Lamun aranana salat Pun minangka
kekembanging salat daim Ingaran tata
krama Endi ingaran sembah sejati Aja
nembah yen tan katingalan Temahe kasor
kulane Yen sira nora weruh Kang sinembah
ing donya iki Kadi anulup kaga Punglune den sawur Manuke mangsa kenaa
Awekasa amangeran adan sarpin
Sembahe siya-siya. Artinya: Unggulnya diri
itu mengetahui hakikat shalat, sembah dan
pujian. Shalat yang sebenarnya bukan
mengerjakan shalat Isya dan maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila itu disebut
shalat, maka hanyalah hiasan dari shalat
daim. Hanyalah tata krama . manakah yang
disebut shalat yang sesungguhnya itu?
Janganlah menyembah jikalau tidak
mengetahui siapa yang disembah. Akibatnya dikalahkan oleh martabat
hidupmu. Jika didunia ini engkau tidak
mengetahui siapa yang disembah, maka
engkau seperti menyumpit burung.
Pelurunya hanya disebarkan, tapi
burungnya tak ada yang terkena tembakan. Akibatnya cuma menyembah
ketiadaan, suatu sesembahan yang sia-sia.
Maka jelaslah bahwa shalat lima waktu
yang hanya dilakukan berdasarkan ukuran
formalitas, hanya sebentuk tata krama,
aturan keberagamaan. Sementara shalat daim yang merupakan shalat yang
sebenarnya. Yakni, kesadaran total akan
kehadiran dan keberadaan Hyang Maha
Agung di dalam dirinya, dan dia merasakan
dirinya sirna. Sehingga semua tingkah
lakunya adalah shalat. Diam, bicara, dan semua gerak tubuhnya merupakan shalat.
Wudhu, membuang air besar, makan dan
sebagainya adalah tindakan sembahyang.
Inilah hakikat dari niat sejati dan pujian yang
tiada putus. Ya, shalat yang mampu
membawa pelakunya untuk menebar kekejian dan ke-mungkar- an. Mampu
menghadirkan rahmatan lil
alamin. 3.
Puasa Puasa dalam ketentuan syariat
adalah menahan diri dari makan, minum
dan bersetubuh. Sejak masuk subuh
hingga masuk waktu maghrib. Sedangkan puasa dari segi rohani bermakna
membersihkan semua pancaindera dan
pikiran dari hal- hal yang haram, selain
menahan diri dari perkara-perkara yang
membatalkannya yang telah ditetapkan
dalam puasa syariat. Dalam puasa harus diusahakan keduanya berpadu secara
harmonis. Puasa dari segi rohani akan batal
bila niat dan tujuannya tergelincir kepada
sesuatu yang haram, walau hanya sedikit.
Puasa syari
at berkait dengan waktu, tetapi
puasa rohani tidak pernah mengenal waktu. Terus menerus dan berlangsung
sepanjang hayat du dunia dan akhirat.
Inilah puasa yang hakiki, seperti yang
dikenal oleh orang yang hati dan jiwanya
bersih. Puasa adalah pembersihan diatas
pembersihan. Puasa tidak bermakna kalau tidak membawa pelakunya kepada
kedekatan terhadap Allah. Orang awam
akan cepat berbuka begitu waktu buka tiba.
Tetapi orang yang rohaninya ikut berpuasa,
tidak akan pernah berhenti berpuasa
secara rohani walaupun secara fisik ia juga berbuka sebagaimana orang lain. Jika
orang awam merasakan kebahagiaan
berpuasa saat berbuka dan pada saat
melihat datangnya bulan Syawal setelah
satu bulan berpuasa penuh, maka lain bagi
orang yang
arif. Orang yang telah bermarifat lebih mengutamakan dimensi
spiritual. Ia akan menganggap kenikmatan
berbuka adalah pada waktu kelak ia
memasuki taman surga dan menikmati
segala hal di dalamnya. Sedangkan
maksud kenikmatan ketika melihat adalah kenikmatan yang diperoleh bila mereka
dapat melihat Allah dengan matahati
sebagai salah satu efek dari puasanya.
Namun masih ada jenis puasa yang lebih
tinggi, yakni puasa hakiki atau puasa yang
sebenarnya. Puasa ini memiliki martabat yang lebih bagus dari kedua puasa diatas.
Puasa ini adalah puasa menahan hati dari
menyembah, memuji, memuja, dan mencari
ghairullah (yang selain Allah). Puasa ini
dilakukan dengan cara menahan mata hati
dari memandang ghairullah, baik yang lahir maupun yang batin. Namun walaupun
seseorang telah sampai kepada tahapan
puasa hakiki, puasa wajib tetap dibutuhkan
sebagai aplikasi syari
atnya, dan sebagai
cara serta sarana menggapai kesehatan
fisik. Sebaliknya, jika puasa hanya memenuhi ketentuan syariat, maka
iku wis
palson kabeh
, hanya sebentuk
kebohongan beragama semata. Puasa
merupakan tindakan rohani untuk
mereduksi watak- watak kedzaliman,
ketidakadilan, egoisme, dan keinginan yang hanya untuk dirinya sendiri. Inilah yang
diajarkan Syekh Siti Jenar. Buahnya adalah
kejujuran terhadap diri sendiri, orang lain
dan kejujuran di hadapan Tuhan tentang
kenyataan dan eksistensi dirinya. Dalam
puasa hakiki, hati dibutakan dari pandangan terhadap ghairullah dan tertuju
hanya kepada Allah serta cinta kepada-
Nya. Dengan puasa hakiki inilah esensi
penciptaan akan terkuak. Manusia adalah
rahasia Allah dan Allah rahasia bagi
manusia. Rahasia itu berupa nur Allah. Nur itu adalah titik tengah (centre) hati yang
diciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib.
Hanya ruh yang tahu semua rahasia itu.
Ruh juga menjadi penghubung rahasia
antara Khaliq dan makhluk. Rahasia itu
tidak tertarik dan tidak pernah menaruh cinta kepada selain Allah. Dengan puasa
hakiki, ruh itu diaktifkan. Oleh karenanya jika
ada setitik dzarrah pun cinta terhadap
ghairullah, batallah puasa hakiki. Jika puasa
hakiki batal maka kita mengulanginya,
menyalakan kembali niat, dan harapan kepada Allah di dunia dan akhirat. Puasa
hakiki hanyalah menempatkan Allah di
dalam hati, menjalani proses
kemanunggalan meng- Gusti-kan
perwatakan kawula. Dengan puasa hakiki,
maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya puasa merupakan hadiah Allah
untuk umat manusia. Sehingga bagi hamba
Allah yang telah mencapai ma
rifat,
akhirnya puasa wajib dan sunnah bukanlah
berbeda. Secara lahiriah keduanya
memang berbeda dari segi waktu dan cara pelaksanaannya, akan tetapi secara
batiniah, esensi kedua jenis puasa itu tidak
berbeda. Dengan berpuasa secara hakiki,
tidak ada sekat wajib atau sunnah lagi, yang
ada adalah menikmati hadiah dari Allah
bagi rohani kita. Sehingga dengan pemahaman dan pelaksanaan puasa yang
seperti itu, maka akhirnya puasa tersebut
akan mampu menjadi katalisator bagi hawa
nafsu kita, dan hati akan semakin berkilau
oleh bilasan nurullah. Ia akan menjadi motor
penggerak bagi ruh al-idhafi, sebagai efek kebeningan hatinya yang dengan itulah
keseluruhan kehidupan akan ditunjukkan
menuju kearah al-Haqq,...

Selasa, 05 Juni 2012

Salah Sambung


SALAH SAMBUNG

Berawal dari telepon salah sambung, sebut saja dia mawar. Awalnya mawar menutupi masalah yang tengah dia alami, namun akhirnya dia bercerita. Ternyata mawar sudah merasa berdosa, sehingga menggerakkan dirinya untuk bunuh diri.

Bukan tanpa alasan kuat, secara psikologis dia merasa dirinya telah hancur. Hal itu terjadi semenjak diketahui bahwa dirinya telah hamil di luar nikah. Dan yang lebih membuatnya merasa terpuruk lagi, sang pria yang telah menghamilinya pergi entah kemana. Akhirnya dia putuskan untuk aborsi dan berhasil. Tetapi orang-orang kampung sudah terlanjur mengetahui, bahkan sang ibu sering kali mendapat cemooh dan hinaan dari para tetangga.

Merasa sebagai sampah masyarakat, mawar berniat bunuh diri. Karna tidak mau menambah malu dan beban orang tuanya. Tetapi niatnya tersebut urung dilaksanakan, setelah mawar bertemu dengan seorang pengamal. 

Pertemuan mawar dengan pengamal terjadi secara tidak sengaja, yakni salah sambung telepon. Dan berlanjut hingga mengurungkan niat bunuh diri mawar. Mawar disarankan untuk mengamalkan kalimah nida "yaa sayyidii yaa rasuulallaah" selama 40 hari dan mawar pun berkenan mengamalkannya. 

Di 3 hari pengamalan mawar mendengar suara tangis bayi perempuan dan dia pun bertanya kepada pngamal tersebut. Singkat pengamal tersebut menjawab, "itu suara tangis bayi kamu" mawar pun menangis. Dia ingin sekali bertemu dan minta maaf kepada anaknya itu. Disarankanlah untuk meneruskan pengamalannya dengan lebih sungguh-sungguh. Dan di hari ke 7, mawar melihat samar-samar sosok bayi, tetapi bayi tersebut berlumuran darah. Bayi tersebut bertanya kepada mawar, yang membuat mawar menangis terseduh-seduh. Bayi tersebut bekata "ibu, kenapa aku tidak kau perkenankan hidup?". Mawar dengan berat berata "anakku, maafkan ibu." 

Mawar menceritakan semuanya, dan mawar disarankan untuk terus melanjutkan pengamalan 40annya. Mawar sangat ingin mendapat maaf dari sang anak, dan di hari ke 10 mawar mulai melihat sosok anaknya. Perempuan, dan sang anak tersenyum kepada mawar. Mawar pun bahagia. Dan semakin giatlah mawar melanjutkan pengamalannya dan di hari-hari terakhir, mawar ingin sekali memeluk anaknya. Pengamal yang selama ini mendampingi mawar, meyakinkan mawar, bahwa kelak mawar akan menikah dan mempunyai anak. Anak yang akan lahir, itulah anak yang sama ketika mawar mebgaborsinya.

Subhanallaah, beberapa bulan kemudian, berita mawar akan menikah disampaikan langsung kepada si pengamal, alhamdulillah. Dan kini mawar hidup bahagia dngan keluarga kecilnya. (Real history from my brother in Jakarta)

Semoga bermanfaat dan dapat mengambil hikmah dan himmah di balik cerita pengalaman ini, selamat berjuang dan selamat beristirahat.



di ambil dari kisah  satu pengamal sholawat wahidiyah

Puisi Cinta
Aku tidak ingin dipandang tampam oleh wanita, biarlah
aku tampan dimatamu..
... Apa gunanya aku menjadi perhatian wanita andai
murkah Allah ada disitu..
... ... Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan wanita bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu
seolah-olah aku ini barang yang dapat dimiliki
sesuka hati..
Bagaimana akan kujawab dihadapan Allah kelak andai ditanya?
Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup dimuka bumi?
Kalau aku ingin wanita yang baik menjadi istriku,
aku juga perlu menjadi lelaki yang baik,
Siapalah diriku untuk memilih
permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud dimana-mana,tetapi aku juga punya keinginan seperti lelaki yang lain,
Andainya kaulah
jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih sayang dlm hatiku juga hatimu..
Seorang lelaki yang membiarkan
dirinya dikerumuni,
didekati, diakrabi oleh wanita yang bukan
muhrimnya, cukuplah dgn itu hilang harga dirinya
dihadapan Allah, Yang dicari walaupun bukan putri raja, biarlah putri
agama..
Yang dimimpi, biarlah tak punya rupa, asal
sedap dipandang mata..Yang dinilai, bukan
sempurna sifat jasmani, asalkan sifat rohani&hati.
Yang dihadapi, bukan jihad pada semangat, asal
perjuangannya ada matlamat..
Yang dinanti, bukan lamaran dengan permata, cukuplah akad dan janji
setia..Dan yg akan terjadi, andai tak sama dgn
kehendak
hati, insyaAllah ku redha dgn ketetapan Illahi
Wahai pujangga, kuingatkan diriku, dan dirimu,
peliharalah diri & jagalah kesucian
..