iblis berwajah manusia

Ternyata aku adalah iblis berwajah manusia

Masih teringat jelaskah rangakaian-rangkaian peristiwa yang telah membuat ibu pertiwi menangis ? iya benar, tragedi bencana alam yang memporak-porandakan tanah air Indonesia tercinta yaitu dengan beruntutnya bencana alam yang membuat ratusan ribu bahkan jutaan pasang mata memaksa untuk meneteskan air matanya untuk menangisi korban keganasan alam tersebut.

Sadar atau tidak sadar bencana alam itu sebenarnya sebuah peringatan keras bahwa pelaku-pelaku kejahatan akan tumbang tiada tersisa (penjahat, perampok, koruptor, teroris, pezina, penfitnah, penghasud, dsb).

Maka saat itu apa yang pertama kali yang ada dibenak kita tentang tumbangnya pelaku-pelaku kejahatan ?

Senang ?

Bahagia ? atau

Bersuka cita ! karena virus-virus perusak keindahan dunia telah mati !

Tolong di jawaban dengan sejujur-jujurnya ?

kalau anda menjawab iya maaf anda adalah level orang biasa bukan orang luar biasa

Akan tetapi jikau anda ingin menjadi orang yang luar biasa mendapatkan hikmah dibalik kejadian itu maka tanggalkan perasaan itu semua, karena orang yang luar biasa bukan melihat apa yang telah diperbuat tapi jauh dengan paradigma (sudut pandang) yang sebenarnya itu sebuah skenario dari Tuhan sebagai alat penguji manusia. karena pelaku-pelaku kejahatan merupakan suatu keuntungan yang sangat besar bagi orang berjiwa besar bukan orang yang kerdil jiwa dan hatinya, sebab pelaku-pelaku kejahatan itulah yang merupakan suatu penyeimbang dan indikasi munculnya hikmah-hikmah yang agung yang menjadikan suplemen jiwa kita untuk menjadi dewasa.

Kalau kita tahu betapa sangat terkejutnya apabila mengetahui rahasia dibalik hikmah tumbangnya pelaku-pelaku kejahatan. Ahli hikmah menangis dan bersedih dimana pelaku-pelaku kejahatan akan tumbang. Sebab suatu musibah yang sangat besar apabila pelaku-pelaku jahat itu tumbang, tidak akan ada lagi hikmah-hikmah yang terurai yang menjadikan dunia menjadi indah. karena pelaku-pelaku kejahatan ini merupakan suatu penyeimbang dunia agar tidak kiamat.

Tapi siapa yang tahan dengan fitnaan, cacian, yang dilemparkan terang-terangan di muka kita ?

Hanya orang yang berjiwa besarlah yang dapat menahan serangan itu semua walaupun terasa sangat sakit, pahit dan tidak enak dirasa, tapi paradigmanya merubah sesuatu yang sakit menjadi tidak terasa. Dengan zirah sabar dan ridholah yang menjadikan sebuah obat yang akan menyembuhkan penyakit-penyakit keangkuhan yang ada didalam jiwanya. Sehingga dengan dia dicaci, difitnah dan dihina, semakin jelas dan nampak bahwa dirinya adalah manusia yang lemah, hina, dan berlumuran dosa.

Sehingga hati apabila difitnah, dihina, dan dibenci orang dan kamu membalasnya dengan perbuatan yang sama kamu belum wahidiyah. Maka apabila bertemu dengan pengontras ketika sedikit kamu timbul perasaan benci, inilah taraf penyempurnaan wahidiyah di era yang akan datang .

Dengan perasaan nol tidak merasa ada apa-apa itulah yang menjadikan benteng hati yang sangat dasyat, karena hakekat semuanya adalah permainan dan sendau gurai belaka. Karena kuasa Alloh lah yang menjadikan itu semua seolah-olah tampak seperti nyata (susah, senang, sedih, dsb).

Maka tidak akan mungkin mutiara hikmah akan muncul sebelum sebelum ujian fitnah datang.

Tidak ada orang yang akan di muliakan yang tidak akan di uji, dicaci, dan di fitnah. maka lebih mulia dengan kita diam dan merenungi kekurangan diri sendiri, daripada membalas cacian dan fitnaan orang lain, karena sabar itu adalah tangga yang terselubung menuju kemuliaan (renungan untuk menjadi jiwa yang sempurna).

Sebagai contoh :

Seorang Abuizal Bakrie tidak akan risau apalagi marah jikalau ada seseorang datang dihadapannya terang-terangan mengatakan bahwa abu rizal bakrie itu seseorang yang miskin, kampungan, dan tidak punya uang, yang ada tertawa dan kasihan dengan apa yang dilakukan orang itu kepadanya. Siapa yang tidak tahu Aburizal Bakrie, salah seorang pengusaha terkaya dari indonesia.

Begitupula seseorang yang dekat kepada Alloh, dia tidak marah sedikitpun apabila cacian, fitnaan, serta hujatan menghujam dirinya. Kesabaran dan ridholah yang menjadi baju keagungannya. Karena dia sangat dekat dengan Sang Maha Benar. Tidak ada urusan baginya untuk marah apalagi membenci orang yang telah menyakiti dia, karena sadar tiada tempat untuk marah ketika dihina, sebab Alloh masih banyak menutupi aib kebusukan hatinya kepada sesama manusia.

Mari sekali lagi kita koreksi diri kita ? Pantaskah kita menjadi kekasih tuhan ?

keangkuhan atau sabarkah yang menjadi baju dalam menghadapi ujian yang diberikan Alloh kepada kita ?

Kalau sabar berarti kita adalah kekasih Alloh. Karena Alloh bersama orang yang sabar.

Akan tetapi sebaliknya ketika kita menghadapi tangga ujian kemulian akan tetapi baju keangkuhan dan kemarahanlah yang kita kenakan maka sebenarnya kita adalah iblis yang berwajah manusia! merasa paling benar sendiri dan tidak menduduki posisi seorang hamba yang lemah, hina, dan berlumuran dosa. Maka belum dikatakan sebagai "Pejuang Wahidiyah" jikalau kamu masih mempunyai rasa dendam dan marah terhadap orang yang membencimu !

Emas tetaplah emas, tidak akan berubah sampai kapanpun walau ditaruh didalam kotoran dan selokan. Begitupula kekasih Tuhan, apapun yang terjadi dia tidak akan pernah berubah sedikitpun karena aura akhlaqul karimah kelembutan dan kesabaran senantiasa terpancar didalam jiwanya.

Selasa, 05 Juni 2012

Salah Sambung


SALAH SAMBUNG

Berawal dari telepon salah sambung, sebut saja dia mawar. Awalnya mawar menutupi masalah yang tengah dia alami, namun akhirnya dia bercerita. Ternyata mawar sudah merasa berdosa, sehingga menggerakkan dirinya untuk bunuh diri.

Bukan tanpa alasan kuat, secara psikologis dia merasa dirinya telah hancur. Hal itu terjadi semenjak diketahui bahwa dirinya telah hamil di luar nikah. Dan yang lebih membuatnya merasa terpuruk lagi, sang pria yang telah menghamilinya pergi entah kemana. Akhirnya dia putuskan untuk aborsi dan berhasil. Tetapi orang-orang kampung sudah terlanjur mengetahui, bahkan sang ibu sering kali mendapat cemooh dan hinaan dari para tetangga.

Merasa sebagai sampah masyarakat, mawar berniat bunuh diri. Karna tidak mau menambah malu dan beban orang tuanya. Tetapi niatnya tersebut urung dilaksanakan, setelah mawar bertemu dengan seorang pengamal. 

Pertemuan mawar dengan pengamal terjadi secara tidak sengaja, yakni salah sambung telepon. Dan berlanjut hingga mengurungkan niat bunuh diri mawar. Mawar disarankan untuk mengamalkan kalimah nida "yaa sayyidii yaa rasuulallaah" selama 40 hari dan mawar pun berkenan mengamalkannya. 

Di 3 hari pengamalan mawar mendengar suara tangis bayi perempuan dan dia pun bertanya kepada pngamal tersebut. Singkat pengamal tersebut menjawab, "itu suara tangis bayi kamu" mawar pun menangis. Dia ingin sekali bertemu dan minta maaf kepada anaknya itu. Disarankanlah untuk meneruskan pengamalannya dengan lebih sungguh-sungguh. Dan di hari ke 7, mawar melihat samar-samar sosok bayi, tetapi bayi tersebut berlumuran darah. Bayi tersebut bertanya kepada mawar, yang membuat mawar menangis terseduh-seduh. Bayi tersebut bekata "ibu, kenapa aku tidak kau perkenankan hidup?". Mawar dengan berat berata "anakku, maafkan ibu." 

Mawar menceritakan semuanya, dan mawar disarankan untuk terus melanjutkan pengamalan 40annya. Mawar sangat ingin mendapat maaf dari sang anak, dan di hari ke 10 mawar mulai melihat sosok anaknya. Perempuan, dan sang anak tersenyum kepada mawar. Mawar pun bahagia. Dan semakin giatlah mawar melanjutkan pengamalannya dan di hari-hari terakhir, mawar ingin sekali memeluk anaknya. Pengamal yang selama ini mendampingi mawar, meyakinkan mawar, bahwa kelak mawar akan menikah dan mempunyai anak. Anak yang akan lahir, itulah anak yang sama ketika mawar mebgaborsinya.

Subhanallaah, beberapa bulan kemudian, berita mawar akan menikah disampaikan langsung kepada si pengamal, alhamdulillah. Dan kini mawar hidup bahagia dngan keluarga kecilnya. (Real history from my brother in Jakarta)

Semoga bermanfaat dan dapat mengambil hikmah dan himmah di balik cerita pengalaman ini, selamat berjuang dan selamat beristirahat.



di ambil dari kisah  satu pengamal sholawat wahidiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar