dipahami sebagai bentuk mengucapkan
kata “Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa
asyhadu anna Muhammad al-rasul Allah”.
Dan karena hanya pengucapan, wajar jika
tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap mental manusia. Siapapun toh dapat
mengucapkannya, walau kebanyakan tidak
memahaminya. Padahal makna
sesungguhnya bahwa syahadat adalah
“kesaksian” bukan “pengucapan” kalimat
yang menyatakan bahwa ia telah bersaksi. Ketika kita mengucakan kata “Allah”, maka
kata ini harus hadir dan lahir dari keyakinan
yang mendalam. Pada saat pengucapan,
kita harus yakin bahwa Allah “ada” pada diri
nabi-Nya, dan bahwa setiap diri kita mampu
membawa peran nabi tersebut. Dalam ma’rifat, nabi dan kenabian sebagai suatu
hal yang selalu hidup. Dan ketika person
nabi terakhir diberi label “Muhammad”,
maka ia adalah langsung dari nur dan ruh
Muhammad, dan menyandang nama
spiritual sebagai “Ahmad”. Dan ketika kata “Ahmad” disebutkan, Nabi Muhammad
sering mengemukakan bahwa “ana Ahmad
bila mim” (aku adalah Ahmad yang tanpa
mim), yakni “Ahad”. Ketika suku bangsa
dzahir “arab” disebutkan, beliau sering
mengemukakan “ana ‘arabun bila “Ain”, (aku adalah “Arab tanpa ‘Ain), yakni
“Rabb”. Inilah kesaksian itu, atau syahadat.
Kalau kita membayangkan nabi secara
fisikal maka kita akan menghayalkan
tentang nabi. Nah, pada saat Allah kita
rasakan hadir atau bersemayam dalam diri Nabi yang berada di kedalaman lubuk hati
kita, maka terlepaslah ucapan “Muhammad
al-Rasul Allah” sebagai kesaksian. Lalu
kesaksian ini kita lepaskan ke dalamDzat
Allah. Sehingga kemudian tercipta apa
yang disebut sebagai “Tunggal ing Allah hiya kang amuji hiya kang pimuji”,
kemanunggalan dengan Allah sehingga
baik yang memuji dan yang dipuji tidak
dapat dipisahkan. Pada konteks syahadat
yang seperti itulah kemudian lahir ajaran
tentang “wirid sasahidan” dari Syekh Siti Jenar, dalam bentuk pengucapan hati
sebagai berikut (Sholikhin: 2004, 182-183)
Ingsun anakseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ono pangeran among ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku
utusaningsun Iya sejatine kang aran Allah iku badaningsun Rasul iku rahsaningsun
Muhammad iku cahyaningsun Iya ingsun
kang urip tan kena ing pati Iya ingsun kang
eling tak kena lali Iya ingsun kang langgeng
ora kena owah gingsir ing kahanan jati Iya
ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji Iya ingsun kang amurba amisesa,
kang kawasa wicaksana ora kekurangan
ing pakerti Byar Sampurna padhang
terawangan Ora kerasa apa-apa Oa ana
katon apa-apa Mung ingsun kang nglimputi
ing alam kabeh Kalawan kodratingsun. Artinya: Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku
sendiri Sesungguhnya tiada tuhan selain
Aku Aku bersaksi sesungguhnya
Muhammad itu utusan-Ku Sesungguhnya
yang disebut Allah itu badan-Ku Rasul itu
rasa-Ku Muhammad itu cahaya-Ku Akulah yang hidup tidak terkena kematian Akulah
yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena
perubahan di segala keadaan Akulah yang
selalu mengawasi dan tidak ada
sesuatupun yang luput dari pengawasan- Ku Akulah yang maha kuasa, yang
bijaksana, tiada kekurangan dalam
pengertian Byar Sempurna terang
benderang Tidak terasa apa-apa Tidak
kelihatan apa-apa Hanya aku yang meliputi
seluruh alam Dengan kodrat-Ku Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa
kesaksian tersebut diperoleh berdasarkan
lelaku. Maka setelah lahirnya kesaksian
tersebut juga harus disertai dengan lelaku
pula. Yaitu diikuti dengan semedi atau dzikir
rasa sehingga kemudian dapat mengalami mati dalam hidup dan hidup dalam mati.
Dzikir seperti ini dilakukan dengan meng-
heneng-kan diri dan mengheningkan cipta
serta karsa sehingga kembali tercipta
kesatuan hati, pikiran dan rasa hidup. Hal ini
dilakukan dengan menyatukan pancaindera, memejamkan mata dan
mengarahkannya ke pucuk hidung
(pucuking ghrana), sambil menyatukan
denyut jantung, harus diatur pula
pernapasan yang masuk dan keluar jangan
sampai tumpang tindih. Biasanya praktik sasahidan ini akan berujung pada
bercampurnya rasa hati dan hilangnya
segenap perasaan. Kalau sudah mencapai
kondisi ini, maka harus diturunkan ke dalam
jiwa dan menyebar ke seluruh sel-sel dan
syaraf tubuh. Sehingga akan tercapailah ketiadaan rasa apapun dan akan
memunculkan sikap ke- waskitha-an (eling
lan waspadha). Dengan demikian wajar jika
pada kesimpulannya tentang makna
syahadat, Syekh Siti Jenar memberikan
makna syahadat sebagai etos gerak, etos kerja yang positif, progresif, dan aktif. Syekh
siti jenar mengemukakan bahwa syahadat
tauhid dan syahadat rasul mengandung
makna jatuhnya rasa (menjadi etos),
kesejatian rasa (unsur motorik), bertemunya
rasa (ide aktif dan kreatif), hasil karya yang maujud serta dampak terhadap kesejatian
kehidupan (Sholikhin: 2004, 187). Itulah
makna syahadat yang sesungguhnya dari
sang insan kamil. 2. Sholat “Peliharalah
shalatmu dan shalat wustha. Berdirilah
untuk Allah (dalam shalat) yang khusyuk” (QS Al. Baqarah/ 2:238). Ini
adalah penegasan dari Allah tentang
kewajiban dan keharusan memelihara
shalat, baik segi dzahir maupun batin
dengan titik tekan “khusyuk”, kondisi batin
yang mantap. Secara lahir, shalat dilakukan dengan berdiri, membaca Al-Fatihah, sujud,
duduk dsb. Kesemuanya melibatkan
keseluruhan anggota badan. Inilah shalat
jasmani dan fisikal. Karena semua gerakan
badan berlaku dalam semua shalat, maka
dalam ayat tersebut disebut shalawaati (segala shalat) yang berarti jamak. Dan ini
menjadi bagian pertama, yakni bagian
lahiriah. Bagian kedua adalah tentang
shalat wustha, yaitu yang secara sufistik
adalah shalat hati. Wustha dapat diartikan
pertengahan atau tengah-tengah. Karena hati terletak di tengah, yakni di tengah “diri”,
maka dikatakan shalat wustha sebagai
shalat hati. Tujuan shalat ini adalah untuk
mendapatkan kedamaian dan ketentraman
hati. Hati terletak di tengah-tengah, antara
kiri dan kanan, antara depan dan belakang, atas dan bawah, serta antara baik dan
jahat. Hati menjadi titik tengah, poin
pertimbangan. Hati juga diibaratkan berada
diantara dua jari Allah, dimana Allah
membolak- balikkannya ke mana saja yang
ia kehendaki. Maksud dari dua jari Allah adalah dua sifat Allah, yaitu sifat Yang
Menghukum dan Meng-adzab dengan sifat
Yang Indah, Yang Kasih Sayang, dan Yang
Lemah Lembut. Sholat dan ibadah yang
sebenarnya adalah sholat serta ibadahnya
hati, kondisi khusyu’ menghadapi kehidupan. Bila hati lalai dan tidak khusyuk,
maka jasmaniahnya akan berantakan.
Sehingga kalau ini terjadi, kedamaian yang
didambakan akan hancur pula. Apalagi
shalat jasmani hanya bisa dicapai dengan
hati yang khusyuk. Kalau hati tidak khusyuk, serta tidak dapat konsentrasi pada arah
yang dituju dari shalat, maka hal itu tidak
bisa disebut shalat. Juga tidak akan dapat
dipahami apa yang diucapkan, dan tentu
apa pun yang dilakukan dengan bacaan
dan gerakannya tidakakan bisa mengantarkan sampai kepada Allah.
Urgensi ke-khusyuk-an ini berhubungan
dengan inti shalat sebagai doa. Doa atau
munajat, bukan sekedar permintaan hamba
kepada Allah, akan tetapi berarti juga
sebagai arena pertemuan. Dan tempat pertemuan itu adalah di dalam hati. Maka
jika hati tertutup di dalam shalat, tidak peduli
akan makna shalat rohani, shalat yang
dilakukan tersebut tidak akan memberikan
manfaat apa pun. Sebab semua yang
dilakukan jasmaninya sangat tergantung kepada hati sebagai Dzat untuk badan.
“Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada
sekeping daging, apabila daging itu baik,
baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia
rusak, rusak pulalah semua tubuh itu.
Daging itu adalah hati. “ (sabda Rasulullah) Ke-khusyuk-an hati akan membawa sholat
yang menghasilkan kesehatan hati. Shalat
khusyuk akan menjadi obat bagi hati yang
rusak dan jahat serta berpenyakit. Maka
shalat yang baik haruslah dengan hati yang
sehat dan baik pula, bukan dengan hati yang rusak, yakni hati yang tidak dapat
hadir kepada Allah. Jika shalat dari sisi
jasmaniah-fisik memiliki keterbatasan dalam
semua hal, baik tempat, waktu, kesucian
badan, pakaian, dsb, maka shalat dari segi
rohaniah tidak terbatas dan tidak dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.
Shalat secara rohaniah tidak terikat oleh
ruang dan waktu. Shalat ini selalu dilakukan
terus menerus sejak di dunia hingga akhirat.
Masjid untuk shalat rohani terletak dalam
hati. Jamaahnya terdiri dari anggota- anggota batin atau daya-daya rohaniah
yang ber-dzikir dan membaca al-asma’ al-
husna dalam bahasa alam rohaniah. Imam
dalam shalat rohani adalah kemauan atau
keinginan (niat) yang kuat. Dan kiblatnya
adalah Allah. Inilah shalat tarek dan sholat daim yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar.
Shalat yang demikian itu hanya dapat
dilakukan oleh hati yang ikhlas, hati yang
tidak tidur, dan hati yang tidak mati. Hati dan
jiwa seperti itu kekal dan selalu beribadah
atau shalat ketika jasmaninya sedang tertidur atau terjaga. Ibadah hati dilakukan
sepanjang hayat, dan sepanjang hayatnya
adalah untuk beribadah. Inilah ibadah
orang yang sudah mencapai ma’rifatullah,
tempat penyucian tertinggi. Di tempat itu, ia
ada tanpa dirinya. Karena dirinya telah fana’, telah hilang lenyap. Ingatannya yang
teguh dan suci tercurah hanya kepada
Allah. Namun tentu saja ini berlaku setelah
semua shalat-shalat fardhu dan nawafil
dilaksanakan secara konsisten. Jadi, tempat
suci tersebut baru bisa dijangkau setelah semua shalat syari’at itu sempurna, lalu
masuk ke dalam shalat thariqat dan ma’rifat.
Maka tidak bisa diartikan bahwa jika sudah
berada di tingkatan ini, lalu tidak lagi
melakukan shalat sama sekali. Bahkan
sering dalam shalat itulah mereka mengalami fana’ dalam munajat-nya
sehingga ibadah yang dilakukannya itu
menyita banyak waktu. Hanya saja bentuk
shalat dalam arti gerakan dan bacaan
tertentu sudah tidak mengikat lagi. Shalat
ditegakkan atas kemerdekaan rohani dalam menempuh laku menuju Allah. Pada
tingkatan ini tidak ada lagi bacaan di mulut.
Tidak ada lagi gerakan berdiri, ruku’, sujud,
dsb. Dia telah berbincang dengan Allah
sebagaimana firman-Nya “Hanya Engkau
yang kami sembah, dan hanya Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS Al-
Fatihah/1: 5) Firman tersebut menunjukkan
betapa tingginya kesadaran insan kamil,
yakni mereka yang telah melalui beberapa
tingkatan alam rasa dan pengalaman
rohani sehingga tenggelam dalam lautan tauhid atau Ke-Esaan Allah dan ber”padu”
dengan-Nya. Nikmat yang mereka rasakan
saat itu tidak dapat diungkapkan dengan
kata-kata. Hanya orang yang
mengalaminya yang dapat mengalaminya
yang dapat mengartikan kenikmatan tersebut. Namun mereka pun sering tidak
mau mengungkapkannya. Tidak ingin
membocorkan rahasia Ketuhanan yang
tersimpan di dalam lubuk hatinya oleh Allah.
Hal tersebut sama halnya dengan hakikat
takbir, yang bukan semata-mata ucapan “Allahu Akbar”. Takbir merupakan
pengucapan yang lahir dari firman Allah
yang memuji kebesaran Dzat-Nya. Jadi,
takbir sebenarnya merupakan suara Tuhan
yang meminjam mulut hamba-Nya. Bukan
hasil dari dorongan emosional. Karenanya, takbir sejati adalah menyatakan kebesaran
Allah dari af’al Allah sendiri. Takbir sejati
merupakan penghayatan diri terhadap sifat
Allah. Dan takbir sejati adalah penyebutan
nama-Nya yang lahir dari kehendak-Nya
semata. Dengan takbir yang demikian itu maka yang lain menjadi sangat kecil, dan
menjadi tidak ada. Yang ada hanya Allah.
Ke mana pun kita menghadap yang ada
hanya Wajah Allah. Maka setelah berpadu
ibadah lahir dan batin secara harmonis,
sempurnalah ibadah seseorang. Hati dan ruh seperti tergambar itu membawanya
masuk ke Hadirat Allah. Hatinya ber”padu”
mesra dengan Allah. Dalam alam nyata ia
menjadi hamba yang wara’ dan ‘alim.
Dalam alam rohani ia menjadi ahli ma’rifah
yang telah sampai pada peringkat kesempurnaan mengenal Allah. Inilah
makna bahwa shalat adalah perjalanan
menuju Allah. Hasilnya adalah bahwa shalat
yang dilaksanakan mencegah perilaku
yang keji dan munkar. Sebaliknya
menghasilkankehalusan dan kemuliaan budi dan perilaku. Jika shalat telah
dihilangkan makna hakikatnya, hanya
menjadi sekedar pelaksanaan hukum fikih
sebagaimana tampak pada kebanyakan
manusia dewasa ini, maka shalat tersebut
telah kehilangan makna fungsionalnya. Hal inilah yang telah mendatangkan kritik tajam
dari Syekh Siti Jenar. Sadat salat pasa tan
apti Seje jakat kaji mring Mekah Iku wes
palson kabeh Nora kena ginugu Sadayeku
durjaning bumi Ngapusi liyan titah Sinung
swarga besuk Wong bodho anu auliya Tur nyatane pada bae durung uning Artinya:
Syahadat, sholat, puasa semua tanpa
makna Termasuk zakat dan haji ke Mekah
Itu semua telah menjadi palsu Tidak bisa
dijadikan anutan Hanya menghasilkan
kerusakan di bumi Membohongi makhluk lain Hanya ingin surga kelak Orang bodoh
mengikuti para wali Sementara
kenyataannya sama saja belum mencapai
tahapan hening Syekh Siti Jenar mengkritik
pelaksanaan hukum fikih pada masa
walisanga karena ibadah-ibadah formal tersebut telah kehilangan makna dan
tujuan, kehilangan arti, dan hikmah
kehidupan. Hal itu menjadikan semua
ajaran agama yang diajarkan oleh para
ulama ketika itu menjadi kebohongan yang
meninabobokkan publik dengan hanya menginginkan surga kelak yang belum ada
kenyataanya. Oleh karenanya Syekh Siti
Jenar mengajarkan praktik shalat
fungsional, berbeda dengan para wali pada
masanya. Shalat tarek sebagai bentuk
ketaatan syari’at, dan shalat daim sebagai shalat yang tertanam dalam jiwa, dan
mewarnai seluruh pekerti kehidupan.
Seseorang yang melaksanakan pekerjaan
profesionalnya secara benar, disiplin, ikhlas,
dan karena melaksanakan fungsi lillahi
ta’ala, maka orang tersebut disebut melaksanakan shalat. Itulah bagian dari
shalat da’im. Namun ternyata, ajaran shalat
fungsional tersebut tidak hanya menjadi
milik Syekh Siti Jenar. Di dalam Suluk Wujil
bait 12-13, sebuah naskah yang ditulis pada
awal abad ke-17, yang disebut-sebut sebagai warisan ajaran Sunan Bonang,
menyebutkan ajaran shalat sebagai berikut:
Utamaning sarira puniki Angrawuhana
jatining salat Sembah lawan pamujine
Jatining salat iku Dudu ngisa tuwin magerib
Sembahyang araneka Wenange punika Lamun aranana salat Pun minangka
kekembanging salat daim Ingaran tata
krama Endi ingaran sembah sejati Aja
nembah yen tan katingalan Temahe kasor
kulane Yen sira nora weruh Kang sinembah
ing donya iki Kadi anulup kaga Punglune den sawur Manuke mangsa kenaa
Awekasa amangeran adan sarpin
Sembahe siya-siya. Artinya: Unggulnya diri
itu mengetahui hakikat shalat, sembah dan
pujian. Shalat yang sebenarnya bukan
mengerjakan shalat Isya dan maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila itu disebut
shalat, maka hanyalah hiasan dari shalat
daim. Hanyalah tata krama . manakah yang
disebut shalat yang sesungguhnya itu?
Janganlah menyembah jikalau tidak
mengetahui siapa yang disembah. Akibatnya dikalahkan oleh martabat
hidupmu. Jika didunia ini engkau tidak
mengetahui siapa yang disembah, maka
engkau seperti menyumpit burung.
Pelurunya hanya disebarkan, tapi
burungnya tak ada yang terkena tembakan. Akibatnya cuma menyembah
ketiadaan, suatu sesembahan yang sia-sia.
Maka jelaslah bahwa shalat lima waktu
yang hanya dilakukan berdasarkan ukuran
formalitas, hanya sebentuk tata krama,
aturan keberagamaan. Sementara shalat daim yang merupakan shalat yang
sebenarnya. Yakni, kesadaran total akan
kehadiran dan keberadaan Hyang Maha
Agung di dalam dirinya, dan dia merasakan
dirinya sirna. Sehingga semua tingkah
lakunya adalah shalat. Diam, bicara, dan semua gerak tubuhnya merupakan shalat.
Wudhu, membuang air besar, makan dan
sebagainya adalah tindakan sembahyang.
Inilah hakikat dari niat sejati dan pujian yang
tiada putus. Ya, shalat yang mampu
membawa pelakunya untuk menebar kekejian dan ke-mungkar- an. Mampu
menghadirkan rahmatan lil ‘alamin. 3.
Puasa Puasa dalam ketentuan syariat
adalah menahan diri dari makan, minum
dan bersetubuh. Sejak masuk subuh
hingga masuk waktu maghrib. Sedangkan puasa dari segi rohani bermakna
membersihkan semua pancaindera dan
pikiran dari hal- hal yang haram, selain
menahan diri dari perkara-perkara yang
membatalkannya yang telah ditetapkan
dalam puasa syariat. Dalam puasa harus diusahakan keduanya berpadu secara
harmonis. Puasa dari segi rohani akan batal
bila niat dan tujuannya tergelincir kepada
sesuatu yang haram, walau hanya sedikit.
Puasa syari’at berkait dengan waktu, tetapi
puasa rohani tidak pernah mengenal waktu. Terus menerus dan berlangsung
sepanjang hayat du dunia dan akhirat.
Inilah puasa yang hakiki, seperti yang
dikenal oleh orang yang hati dan jiwanya
bersih. Puasa adalah pembersihan diatas
pembersihan. Puasa tidak bermakna kalau tidak membawa pelakunya kepada
kedekatan terhadap Allah. Orang awam
akan cepat berbuka begitu waktu buka tiba.
Tetapi orang yang rohaninya ikut berpuasa,
tidak akan pernah berhenti berpuasa
secara rohani walaupun secara fisik ia juga berbuka sebagaimana orang lain. Jika
orang awam merasakan kebahagiaan
berpuasa saat berbuka dan pada saat
melihat datangnya bulan Syawal setelah
satu bulan berpuasa penuh, maka lain bagi
orang yang ‘arif. Orang yang telah berma’rifat lebih mengutamakan dimensi
spiritual. Ia akan menganggap kenikmatan
berbuka adalah pada waktu kelak ia
memasuki taman surga dan menikmati
segala hal di dalamnya. Sedangkan
maksud kenikmatan ketika melihat adalah kenikmatan yang diperoleh bila mereka
dapat melihat Allah dengan matahati
sebagai salah satu efek dari puasanya.
Namun masih ada jenis puasa yang lebih
tinggi, yakni puasa hakiki atau puasa yang
sebenarnya. Puasa ini memiliki martabat yang lebih bagus dari kedua puasa diatas.
Puasa ini adalah puasa menahan hati dari
menyembah, memuji, memuja, dan mencari
ghairullah (yang selain Allah). Puasa ini
dilakukan dengan cara menahan mata hati
dari memandang ghairullah, baik yang lahir maupun yang batin. Namun walaupun
seseorang telah sampai kepada tahapan
puasa hakiki, puasa wajib tetap dibutuhkan
sebagai aplikasi syari’atnya, dan sebagai
cara serta sarana menggapai kesehatan
fisik. Sebaliknya, jika puasa hanya memenuhi ketentuan syariat, maka “iku wis
palson kabeh”, hanya sebentuk
kebohongan beragama semata. Puasa
merupakan tindakan rohani untuk
mereduksi watak- watak kedzaliman,
ketidakadilan, egoisme, dan keinginan yang hanya untuk dirinya sendiri. Inilah yang
diajarkan Syekh Siti Jenar. Buahnya adalah
kejujuran terhadap diri sendiri, orang lain
dan kejujuran di hadapan Tuhan tentang
kenyataan dan eksistensi dirinya. Dalam
puasa hakiki, hati dibutakan dari pandangan terhadap ghairullah dan tertuju
hanya kepada Allah serta cinta kepada-
Nya. Dengan puasa hakiki inilah esensi
penciptaan akan terkuak. Manusia adalah
rahasia Allah dan Allah rahasia bagi
manusia. Rahasia itu berupa nur Allah. Nur itu adalah titik tengah (centre) hati yang
diciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib.
Hanya ruh yang tahu semua rahasia itu.
Ruh juga menjadi penghubung rahasia
antara Khaliq dan makhluk. Rahasia itu
tidak tertarik dan tidak pernah menaruh cinta kepada selain Allah. Dengan puasa
hakiki, ruh itu diaktifkan. Oleh karenanya jika
ada setitik dzarrah pun cinta terhadap
ghairullah, batallah puasa hakiki. Jika puasa
hakiki batal maka kita mengulanginya,
menyalakan kembali niat, dan harapan kepada Allah di dunia dan akhirat. Puasa
hakiki hanyalah menempatkan Allah di
dalam hati, menjalani proses
kemanunggalan meng- Gusti-kan
perwatakan kawula. Dengan puasa hakiki,
maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya puasa merupakan hadiah Allah
untuk umat manusia. Sehingga bagi hamba
Allah yang telah mencapai ma’rifat,
akhirnya puasa wajib dan sunnah bukanlah
berbeda. Secara lahiriah keduanya
memang berbeda dari segi waktu dan cara pelaksanaannya, akan tetapi secara
batiniah, esensi kedua jenis puasa itu tidak
berbeda. Dengan berpuasa secara hakiki,
tidak ada sekat wajib atau sunnah lagi, yang
ada adalah menikmati hadiah dari Allah
bagi rohani kita. Sehingga dengan pemahaman dan pelaksanaan puasa yang
seperti itu, maka akhirnya puasa tersebut
akan mampu menjadi katalisator bagi hawa
nafsu kita, dan hati akan semakin berkilau
oleh bilasan nurullah. Ia akan menjadi motor
penggerak bagi ruh al-idhafi, sebagai efek kebeningan hatinya yang dengan itulah
keseluruhan kehidupan akan ditunjukkan
menuju kearah al-Haqq,...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar